Nasional

Jakarta Masih Ngeri-ngeri Sedap

iDelik.comOleh Kris da Somerpes, Dulu, pernah di Koran Lampu Merah. Ketika pertama kali masuk, redaktur bilang “harian ini hanya menulis empat titik air: air mata (duka-kesedihan), air darah (pembunuhan-perampokan), air mani (mesum-pemerkosaan) dan air keringat (olahraga)”.

Dalam hati kecil, saya terkekeh. Tidak enak untuk tertawa ledak, sebab bisa-bisa kehilangan pekerjaan, apalagi kuliah belum kelar dan biaya hidup Jakarta seperti berlari. Jadi geli-geli sendiri dalam hati. Perut terkocok-kocok.

“Kamu, yang baru, coba menulis tentang air mani”. Itu perintah. Saya terperanjat. Mau cari di mana air mani. Tiba-tiba senior bilang “coba cari-cari di sekitar rel kereta, atau di bioskop senen atau kos-kosan”.

Ketika itu tahun 2005. Jakarta masih ngeri-ngeri sedap. Maka putar-kelilinglah: mulai lingkar pena sampai tanah abang, kampung melayu sampai pasar ular, kelapa gading sampai daan mogot. Terakhir mengong.

Tidak ada berita hari pertama. “Kenapa tidak ada berita?” tanya senior. “Air maninya tidak kelihatan, karena gelap”. Mendengar itu, senior terkekeh. “Nah, tulis itu”. Maka jadilah “Bunga-Bunga Tepi Jalan, Mekar Pukul Dua Belas Malam” saya ingat betul itu judul, karena saya tidak tahu apa yang ditulis. Gelap.

Sudah sejak itu, cerita tentang lendir kian licin. Melihat tukang ojek dan abang bajaj baca Lampu Merah, saya ’emosi’ sendiri. Mengapa tidak. Sekali mata ditancap ke halaman koran, mereka sudah tahu isinya. Judulnya adalah isinya, isinya adalah lead-nya. Rumus 5W+1H diembat dalam satu paragraf. Titik. Puas.

Apa yang mau saya bilang dari Lampu Merah adalah ini: Jakarta membentangkan banyak cerita. Dan seharusnya kita bisa menulis banyak hal untuk beratus-ratus halaman. Tapi di Lampu Merah, Jakarta yang demikian harus bisa ditulis dalam satu paragraf. Dalam dan melalui satu paragraf itulah Jakarta yang luas dimengerti-paham.

Baca Juga :  Ini Dia Fakta Unik Tentang Cara Diet Dengan Rambutan

Lampu Merah, memotret Jakarta dari empat titik. Dan setiap titiknya adalah satu paragraf. Dan satu paragraf itulah sebuah Jakarta. Sungguh terlalu.

Komentar Anda?

To Top